Kegelisahan ini kian kronis
Menimbun debar dan ketidak sabaran yg tak berujung
Rasa baru tercipta karenanya
Entah apa....
Bungkam tak bermakna,
Tak mampu terhalau rekam sosokmu saat ini....
Kalau kau ada sekarang mungkin tak sekuat ini kuderita.....
Ku menghibur diri
Indera pendengaran ini menjadi penghantar yang baik bagi kalbu
Walau mata belum hadir disana, tetap saja hati sedikit terkoyak....
Duuuuh ! Kenapa makin tidak nyaman kudibuatnya ?
Mengajak benda-benda tak berhati menjadi karib....
Kupinta, janganlah kau terlibat wahai emosi....
Menjadikanku kerdil dan selalu kau yang menguasai secara monopoli
Tlah ku undang sabar untuk cepat hinggap dan bertahan tinggal
Sekalian saja bijak kuajak serta
Kutelah bersiap dengan apa yang ada
Sepasukan yang tampak kuat mengatur diri
Tapi mengapa kau tak juga hinggap wahai sabar ?
Kemana saja kau bijak ?
Pasukan pengendalian diri yang percuma
Merah padam berpadu degup jantung yg berpacu
Kembali melansir emosiku dengan gempita
Seakan hanya itulah yang sanggup aku lakukan
Lagi-lagi kebodohan yang terlihat, melengkapinya dan kini terhitung genap
Duhai amarah kenapa kau perbuat ini ?
Tidak kah kau ingin menyapa logika terlebih dulu ?
Sepadan atau tak sepadan tetap aku yang ternilai
Walau ingin sekali kuberpihak dan mengurasmu keluar hingga tuntas
Pffiiiiuuuhhhh....
Cepat lah berlalu,
Kutak mau terbelenggu
Jika ini tanda cinta untukku
Haruskah kutersiksa hingga kelu
5 Juni 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar