Kamis, 08 Desember 2011

Penuh CINTA di laci nakas

Kutemukan benda terbalut velvet hitam berpita merah.di dalam laci urutan ketiga di nakas samping tempat tidurku. Wangi dirimu langsung tertangkap indera penciumanku ini. Aku terkesiap, kurasakan hangat tetesan air menyentuh ujung mataku. Dalam waktu penghabisanmu, kau sempat menyiapkan sesuatu untukku, dan aku sama sekali tak menyadarinya. Tidak saja saat ini, tapi juga beberapa waktu yang terbuang percuma dengan tak terpuaskan nya bathinku akan cintamu. Kenapa disaat raga kita tidak lagi bisa berdekatan, kau buktikan aku salah.

Kuambil benda bersarung velvet itu, terasa lembut lagi wangi, mencium nya saja sudah membuat kerinduan yang sangat akan hadirmu. Perlu waktu beberapa menit untuk mempersiapkan diriku membuka nya.

Sebuah kotak kecil berkayu cendana dengan logam ukir bertuliskan "Bukalah dengan hatimu, kau akan menemukan kuncinya...". Aku menangis.....Memerlukan menit babak kedua untuk berhenti sesaat menbaca ukiran tulisan itu. Gemetarku tak hilang....seperti mengenal dirimu pada pribadi yang lain, yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.

Kuusap perlahan kotak itu, sebuah kunci berkombinasi terlihat di salah satu sisinya. Kuberpikir sejenak, dan ku cari kombinasai angka bertanggal hari pernikahan ku dengannya. Sekilas aku kembali membaca ukiran pada logam itu, kan kubuka dengan hatiku gumanku. Kudapati setumpuk amplop putih berhias gambar bunga timbul di sekelilingnya.....lagi-lagi wangi dirimu yang tercium. Aku mengusapnya pelan. Setumpuk amplop indah.....semuanya berjumlah lima....entah apa maknanya....

Amplop putih pertama yg kubuka sudah usang, warnanya mulai menguning. Gemetar kubuka dengan hati-hati dan mulai membacanya.

10 februari 1970

Aku manusia paling beruntung didunia, hari ini telah diberikanNYA aku anugerah untuk dipertemukan dengan sebelah hatiku yang telah lama aku tunggu. Dari melihat nya saja aku sudah terpana kagum dan menentukan, dia lah yang aku cari. Sosok anggun dan berparas lembut dengan kulit yang terawat menyita perhatian tidak saja aku, tapi sebagian besar orang-orang yang berada di perpustakaan itu. Tersumbat kerongkongan dibuatnya dan aku pun menelan ludah. Duhai cantik sekali perempuan ini, dialah yang pantas kuperistri gumanku. Ku tak mau mengambil resiko didahului oleh lelaki yang sedang ramai membicarakannya, dengan langkah santai kudekati si paras cantik itu. Membuat gerakan terbaiku dan bertanya tentang sebuah buku yang kelihatannya sangat ia sukai. Perkiraan ku benar, ia sedang kebingungan mencari sebuah buku yang kebetulan aku sangat mengenal isi buku itu dengan baik. Tanpa memerlukan waktu panjang, kami sudah asik terlibat membahas buku itu. Itu adalah momen terbaiku selama aku hidup. Bertemu dengan perempuan yang bakal menjadi ibu dari anak-anaku kelak pikirku dengan percaya diri. Betapa bangga dan bersyukurnya aku jika hal ini cepat terwujud.....dan lebih berbangga serta bersyukur lagi si cantik ini jika aku yg jadi suaminya, karna aku orang yg paling tepat untuk ia cintai dan aku akan menjaga nya terus dalam kebahagiaan.

###

Aku menghela nafas panjang, air mataku kian deras membaca kalimat demi kalimat yang ditulis olehnya. Perasaan meluap luap dengan muatan emosi positif menguasaiku. Aku kembali menangis dan membuat jeda sesaat dalam pikiran yang penuh penyesalan. Bahwa ternyata suamiku amat memujaku, sikap nya selama ini yang bertolak belakang ternyata menyimpan kebanggaan terhadapku.

Kuambil amplop putih yang kedua :


6 juni 1973

Terimakasih Ya Tuhan atas karunia yang telah KAU limpahkan pada kami, KAU tlah mempercayakan aku dan istriku hari ini untuk titipanMU yang teramat cantik. Betapa bahagianya aku, walau aku jg sangat sedih melihat istriku kesakitan sepanjang malam tadi. Jika aku yang mengalaminya, belum tentu aku sanggup.

Terimakasih my darling, istriku sayang......kamu sudah membuatku lengkap sebagai seorang laki-laki. memanjangkan cinta ku padamu dan membuat jembatan kita berdua dalam cinta.

####

Lagi-lagi aku terkesima, menatap surat seumur anak kami yg pertama itu dengan perasaan yang entah apa kurasakan. Selama ini aku selalu mengeluh jika suamiku sering melupakan hari ulang tahunku atau hari jadi pernikahan kami. Aku sering protes padanya jika ia tidak mengomentari penampilan ku, atau pekerjaan yang telah aku selesaikan. Aku berpikir bahwa ia orang yang sangat tidak perhatian, tapi ternyata momen-momen tertentu begitu sangat dikenangnya. Meledak rasanya mendapatiku berada di dalam nya.

Tak sabar untuk segera membaca surat demi surat yang mulai membuatku berpikir ulang untuk menilai suamiku secara utuh. Surat berikutnya yang aku buka membuat aku betul-betul terdiam. Amplop surat ketiga ini berisikan 10 lembar kertas kosong tanpa tulisan satu kata pun, hanya tertulis tanggal surat itu dibuat yaitu 19 September 1980. Sepuluh lembar kertas putih kosong yang terlipat rapih membuat tanya yang sangat ingin kuketahui jawabannya. Terlihat sebuah kartu warna biru muda berhias renda putih terjepit bersama sepuluh lembar kertas kosong itu. Aku membuka kartu itu. Semerbak harum yang amat kusuka segera menyapa penciuman ku. Terdapat bunga kering yg tergantung pita kecil didalam lipatan kartu itu. Kemudian aku mulai membaca nya,


20 September 1980

Sayangku, sebenarnya dari kemarin aku ingin menulis sesuatu untukmu. Kukerahkan segenap kemampuan ku untuk merangkai kata, tapi tak kuasa terlaksana. Sekali lagi hanya kata MAAF yang mampu tertulis dan terucap ribuan kali dengan rasa penyesalan yg dalam atas perbuatan ku padamu. Aku tahu kata itu tak akan mampu mengobati luka nya hatimu, berapa kali pun yg terucap....sebanyak apapun yg terkatakan.....kau akan tetap mengingat nya. Dosa ku jika sampai dirimu tidak akan pernah bisa melupakan perbuatan ku. Sampai kapanpun, aku akan terus mengucapkan maaf untukmu. Seperti sepuluh lembar kertas kosong itu, aku berikan padamu hingga kau bisa mengisi nya untuku dengan kata apapun yg kau mau. Sebagai awalnya mungkin bisa kau tuliskan bahwa betapa beruntung nya aku menjadi suamimu. Betapa tidak tahu dirinya aku menghianatimu dan tidak menjaga kepercayaan yg telah kau berikan. Berkata katalah padaku sayang, apapun itu......akan sangat berarti buatku.

#####

Aku menangis.....

Suratnya yg ketiga ini, mau tidak mau mengingatkan aku akan peristiwa yg ingin aku lupakan selamanya. Tidak ingin aku mengingatnya lagi. Dengan membacanya, aku kembali mengulang masa ketika aku begitu membenci suamiku. Dialah orang yang paling aku kutuk waktu itu. Marah, sedih, murka, benci, menangis hanya itu perasaan yg aku tumpahkan selama beberapa bulan sesudah nya dan bertahun setelahnya. Rasa rendah diri dan merasa menjadi org yg plg tdk berguna pernah singgah di diriku. Semuanya terjadi karena aku mendapati suamiku berhianat. Ia menjalin hubungan diam-diam dengan wanita lain. Syok ketika aku mengetahuinya untuk pertama kali. Arrrgghhh....sudahlah aku tak mau mengingat nya lagi, aku membathin.

Kuambil pulpen yg tergeletak, kutulis sebuah kalimat di kertas putih kosong surat suamiku :

"Aku memaafkanmu...."



(Kan kuselesaikan kalimat2 itu jika sudah kutemukan akhirnya)

6 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar