Kamis, 08 Desember 2011

Please take me to make her happy

Semua terasa ringan dan damai. Aku melihat sekelilingku begitu muram dan penuh kedukaan. Ah betapa senangnya melihat aku begitu berarti bagi mereka. Beginikah rasanya dicintai orang ? inikah rasanya ketika orang begitu mengenang kita ? pertanyaan2 yg bergulir tanpa perlu jawaban, karena aku sendiri tak akan pernah ada lagi untuk mereka.

Semuanya berawal dari sini,Tujuh tahun yang lalu,Tangisku pecah memenuhi ruangan yang dingin dan bagiku sangat terang menyilaukan mataku yang kecil ini, hingga membuatku kerap menutupkan mataku lagi karena membuat mataku perih. Yang aku ingat hanya sekumpulan orang orang besar mengelilingiku, semuanya tampak aneh dan asing. Ada seorang wanita yg tengah berbaring kelelahan dimana keringatnya mengucur deras di pelipis dan leher nya. Kemudian ada seseorang yg lebih besar lagi- sedang memegangi tangan wanita itu. Yang kutahu kemudian, merekalah darimana aku berasal. Seorang berpakaian serba putih membersihkan tubuhku, membungkusku dengan kain flanel tebal hingga membuatku merasa hangat. Lalu ia menggendongku, membawaku kembali pada wanita yg melahirkanku.Kudengar ia berkata, “ibu, ini bayinya..lelaki kecil ibu, tampan sekali silahkan dipeluk dulu sebelum diperiksa lagi oleh dokter anak” ujar wanita berpakaian putih itu. Wanita yang dipanggil ibu itu kembali mengeluarkan butir2 air dari mata nya. Aku tidak mengerti kenapa ia melakukan itu, karena setelah wanita berpakaian putih tadi memberikan tubuh mungilku padanya, ia menolak nya. Aku heran karena laki-laki yg sedari tadi memegang tangan si ibu, terlihat begitu sedih dan berusaha membujuk nya untuk menerima ku. Si ibu tidak bergeming setelah beberapa orang kembali membujuknya, akhirnya aku diberikan kepada si lelaki yang kemudian dipanggil bapak itu.

“nak, mama masih capek setelah melahirkan kamu, sebentar lagi pasti mama mau menggendong kamu kok. Sekarang digendong papa dulu ya” lelaki itu berkata. Oh wanita tadi ternyata bernama mama, dan laki-laki yg sedang menggendongku ini punya nama papa. Aku begitu senang nya hingga membuatku tersenyum pada papa, dan seketika itu papa mengeluarkan butiran air dari mata nya besar itu. Lagi-lagi aku tidak tahu kenapa.
Dari sejak pertama aku bertemu secara langsung dan bertatapan dengan wanita yg telah melahirkan ku, yang bernama mama hingga kini sudah tiga hari aku tidak melihatnya lagi. Yang kerap kulihat hanya beberapa orang berpakaian serba putih datang silih berganti. Kadang kain yang membalut tubuhku dilepas kemudian perutku ditekan tekan oleh benda asing dingin. Itu tidak seberapa, kadang aku harus ditusuk benda tajam di bagian lengan ku. Sakit sekali rasa nya. Tapi tidak membuatku sedih hingga mengeluarkan butiran2 air aneh itu.
Sebenarnya banyak sekali peristiwa yang terjadi dan aku ingat semuanya. Semua kurekam dalam kepalaku dan merupakan hal yg kubanggakan. Tidak ada seorangpun kuijinkan memilikinya.

Waktu bergulir beberapa saat, yang aku tahu sangat lama dan membosankan. Tempat tinggalku sangat bagus dan bersih. Ada beberapa orang yg tinggal bersama ku. Papa, mama, dan sesorang yg kerap mengasuhku serta beberapa orang lainnya. Mama jarang sekali menengok ku, mengajak aku pergi atau sekedar bermain. Kalaupun ada, mama hanya memandangku sekilas untuk kemudian berlalu kembali. Padahal aku sangat ingin bermain dengan nya. Masih mending papa, ia suka mendatangiku, mengelusku, menciumku. Kalau aku beruntung, papa juga mengajak ku bermain dihalaman. Tapi papa jarang dirumah karena pekerjaan nya. Jadi hanya org yg mengasuhku saja yg selalu ada. Namanya marni.

Sampai beberapa tahun kemudian, aku masih belum bisa berjalan seperti anak seusiaku. Aku belum bisa berbicara seperti sepupu2 lainnya. Mereka cantik cantik dan ganteng ganteng. Tapi aku tidak bisa ikut bermain bersama mereka, karena aku tidak bisa berjalan, berlari bahkan mengobrol seru dengan mereka. Aku hanya duduk, diam memandang mereka dengan tatapan kosong menurut beberapa orang berbaju putih tempo hari. Tapi mereka salah !! aku sangat mengerti apa yg lisa, dinda, murti, danang, doni bicarakan. Mereka adalah sepupu-sepupu ku yg suka datang kerumah ku ini. Yang aku kadang heran, kalau mereka sedang berada didekatku, mereka selalu menatapku aneh dan kasihan. Tapi aku tahu mereka sangat sayang padaku. Begitu juga nenek, kakek, om beny dan tante poppy.Seperti hari ini ketika kami semua berkumpul, aku merasa senang sekali. Kakek dan nenek mengelusku dan memeluku sesaat….walau hanya sesaat tetapi membuatku tertawa lebar dan senang. Sepupu2 ku pun hadir, mereka seperti biasa bermain dan berlari di taman belakang ini. Aku ingin sekali ikut serta, tapi kan gak mungkin.

Kulihat mama sedang duduk, menunduk diam seperti biasanya. Nenek kembali menangis, ketika berbicara dengan mama. Aku ingin sekali mendekat, mendatangi mama, mengangkat dagunya, membuatnya gembira walau hanya sedikit tersenyum. Atau berada dlm pangkuannya, dipeluknya erat dan diajak nya bermain. Kutunggu saat2 itu…..walau doa dan harapan2 itu terus kupanjatkan, mama tetap saja seperti itu. Kadang aku merasa apakah salahku sehingga mama begitu marah padaku ? seandainya aku tahu, akan kutebus kesalahanku itu dengan apapun keinginan mama.Pernah satu saat aku mendengar seseorang membicarakanku, “kasihan ya, bu mira, sejak melahirkan nanda, ia jadi tampak lebih tua dan tidak punya semangat hidup.” Kemudian kudengar pula lawan bicara nya menjawab, “ya terang saja, anak yg ia lahirkan punya cacat mental seperti itu !! sayapun mungkin akan sama atau malah gak akan sanggup deh menghadapinya !!" .Sejenak aku sangat terkejut mendengarnya, betapa tidak, selama ini akulah penyebab kesedihan yang teramat sangat dirasakan oleh mama. Karena akulah mama sangat menderita !! karena kelahiranku lah mama menjadi terlihat lebih tua dan tidak punya semangat hidup !!. betapa tersiksanya mama, aku membatin. Maaf kan nanda ma,,,,bukan keinginan nanda terlahir seperti ini. Kalau saja tuhan bisa merubah nanda seperti yang mama harapkan, nanda akan lakukan apapun agar semua itu terwujud. Maaf kan nanda ma…..

Sejak saat itu, aku tak henti-henti nya berdoa, memohon pada yang kuasa agar mama ku kembali diberikan kebahagiaan dan kegembiraan, dihilangkan kesedihan dan penderitaan nya. Ya Tuhan jikalau ada yang bisa kulakukan untuk menebus semua kekacauan yang kusebabkan, akan kulakukan Tuhan !! APAPUN !! tapi kembalikan mamaku seperti dulu lagi, jangan KAU rengut kebahagiaan nya ya TUHAN. Berikanlah kebahagiaan yang selama ini kurasakan kepada mama ku, berikan lah tertawaku pada nya, berikanlah gembiraku padanya, agar ia dapat tersenyum kembali….walau hanya tersenyum. Agar mama bisa mendatangiku, memelukku erat seakan takut kehilangan, menciumku , dan mengajakku bermain.
Doa itu berulang-ulang kupanjatkan demi terwujudnya kebahagiaan mama. Kulakukan dalam hati, ku berikrar dalam hati, ku berkata dalam hati……karena aku tidak bisa melakukannya seperti yang lain.
Menjelang ulang tahunku yang ke 7 hari selasa ini, badanku terasa sangat sakit. Sekedar untuk menarik nafas dan membuangnya pun sangat menyiksaku. Yang aku ingat hanya mba marni terus menerus mengompres dahi dan kaki ku dengan air hangat. Kakek dan nenek menginap dan menungguiku, dokter silih berganti mendatangiku. Belum lagi bermacam selang kecil silang menyilang diantara tubuhku yang terbaring lemah. Kedua tanganku kembali ditusuk benda tajam yang menghubungkan tabung plastik aneh berisi cairan. Sakiiiit rasanya. Dari kesemua penderitaan ini, yang paling menyakitkan adalah doaku belum juga terjawab. Karena mama belum juga mau menemuiku, menemaniku, membelaiku. Jika saja itu terjadi, aku akan dengan sangat berusaha membuka mataku yg mungil ini sekedar mengintipnya hadir disisiku. Aku melenguh Karena sakit yang kurasakan menekan kepalaku, tak sadar kuteteskan butiran butiran basah diujung mataku ini. Aku hanya mendengar semua nya berteriak, aku mengenali suara nenek tersedu, suara kakek meneriakan asma ALLAH, belum lagi gumanan orang-orang yang ramai seperti sedang memanjatkan doa..Akhirnya aku seperti ringan melayang diudara, hilang sudah semua sakit yg menderaku. Lenyap sudah penderitaan yang dialami tubuhku. Tusukan benda tajam ditanganku ini sudah tak terasa lagi. Yang kurasakan hanya melayang seakan ada yang menarikku keatas ke tempat yang dipenuhi awan putih bersih. Kulalui lorong panjang tak bertepi. Tiada hal seindah ini yang pernah kulihat. Wangi penuh bunga dan bersih bagai terisolasi dari semua hal kotor.

Kembali kulihat wajah-wajah yang sangat kukenal menangis pilu. Aku terkejut karena beberapa dari mereka terlihat memeluk tubuh ringkih tak berdaya di atas tempat tidur itu. Ya tuhan aku mengenalinya sebagai raga dari ku selama ini. Samar dan tak tahu maksud semua ini, aku mendongak keatas. Tuhan apakah ini jawaban dari semua doaku selama ini ? jika iya, terimakasih Tuhan sudah mengabulkannya untuk ku. Aku kini siap dijemputmu. Kini kulihat tubuhku terbaring di tengah rumah yang sudah ramai didatangi orang. Kulihat kembali wajah-wajah sedih dan muram. Beberapa yang kukenal malah sedang menundukan kepalanya berguman dan meneteskan air mata. Kulihat mba marni membawa sebuah kotak dari kamarku. Hei itu kan kotak rahasiaku, aku berteriak. Tapi mba marni seperti nya tidak mendengar suaraku. Mba marni bergegas mendatangi nenek dan menyerahkan kotak itu. Kulihat matanya sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Nenek pun seperti nya sedang menanyakan apa isi kotak itu pada mba marni, tapi mba marni langsung menangis tersedu sedu. Ia ditenangkan oleh nenek yang kemudian membuka kotak tersebut. Aku lupa belum memberitahukan kepada mba marni bahwa kotak itu khusus kupersembahkan untuk mama, aku ingin ia yang membuka dan melihatnya terlebih dahulu. Belum sempat aku berteriak mengingatkan mba marni, kudengar nenek menangis.

Kemudian ia memeluk mama dan menyuruhnya membuka kotak rahasia ku itu. Mama hanya melirik dan membelai pelan kotaku. Ia membuka nya !! betapa senang kurasakan hingga ingin berteriak kuat. Satu demi satu dilihatnya isi kotak ku itu, kini membuat ia memberikan perhatiannya !! kulihat mama dengan antusias melihat nya !! ia menangis meraung,,,,,duh aku jadi merasa bersalah sudah membuat banyak orang menangis. Padahal aku hanya mengungkapkan apa yang ada didalam hatiku selama ini, khususnya untuk mama tercinta.
Aku membuat gambar di sehelai kertas usang, kugambar seorang wanita yang sedang memeluk seorang anak, wanita itu kuibaratkan mamaku tercinta, dan anak itu tentu saja aku. Bedanya dlm gambar yang kubuat, aku tidak memakai kursi roda, tubuhku pun tegap dengan ekspresi sedang tertawa. Bagaimana tidak tertawa senang, karena mama sedang memeluku. Dalam gambar itupun kutulis “MY MOM and me“, kemudian kutambahkan bentuk2 hati dan gambar bunga. Semuanya untuk mama. Aku juga membuat gambar mama sedang mengajakku bermain mobil-mobilan seperti kepunyaan danang. Ada gambar aku sedang bermain bola dengan papa, ada gambar aku sedang dipangku mama dan disaksikan oleh papa serta kakek dan nenek. Total ada kurang lebih 21 gambar yang selama ini aku buat diam-diam dan kusimpan dikotak rahasiaku ini, tapi ternyata berhasil ditemukan mba marni. Walau aku berharap mama lah yang menemukannya pertama kali, tapi ini pun tak apa, aku sudah senang mama sudah melihatnya.

Ingin rasanya berdekatan dengan mama saat ini, sambil menceritakan padanya mengenai kisah dibalik gambar-gambar itu. Tapi aku tak kuasa, aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Menyaksikannya melihat gambar-gambar yang kubuat. Betapa terkejutnya aku, mama berlari keruang tengah dimana tubuh kaku ku terbaring. Ia menjerit histeris meneriakan namaku berulang ulang.memanggilku dengan panggilan sayang !! ya TUHAN, nyatakah itu ? Ia menangis keras, menumpahkan semua yang ada di dalam hatinya yang selama ini tidak pernah kudengar…..

“nanda sayang, maafkan mama nak ! maaf kan mama sayang !!”
“jangan pergi sayang, mama akan selalu disisi nanda, mama janji sayang !!”
Mama terus menangis dan menjerit, membuat beberapa orang mendekatinya berusaha menghentikan ia mengguncang guncang tubuhku, kasihan mama.

Ya TUHAN, perjanjian kita sepertinya tidak begini gumanku, aku ingin kepergianku ini membuat mama sangat bahagia dan mengembalikan kegembiraan padanya, semangat hidup nya dan tertawanya, bukan malah membuat ia menangis histeris seperti ini protes ku. Belum sempat aku mengutarakan protes ku lagi, samar kulihat sepasang cahaya putih dengan sayap indah mendekatiku dan mengajak ku pergi. Tolonglah sebentar saja lagi pintaku pada mereka, aku hanya ingin melihat mama tertawa atau tersenyum saja sedikit. Tapi mereka menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Itu berati aku harus berangkat sekarang juga. Aahhh sudahlah ujarku dalam hati, mudah-mudahan setelah ini doaku dikabulkan.

Dalam perjalanan melewati lorong panjang nan putih ini, bahuku disentuh lembut oleh makhluk bersayap itu. Anggukan kepalanya mengantarkan aku pada pandangan dinding lorong yang berubah menjadi sebuah layar besar bersambungan tidak terputus. Aku tidak mengerti maksudnya, ia kemudian menunjuk ke arah sebuah gambar dimana mama ku yang sedang dikelilingi papa, nenek, kakek, sepupu-sepupuku dan saudara ku yang lain. Yang membuat ku tertarik, mama sedang memegang baju ku, baju ketika aku baru lahir. Sebuah baby jumpsuit berwarna putih yang masih terjaga warna nya. Ia peluk bajuku itu, ia ciumi wangi nya membuat aku merasakan hal aneh didalam hatiku ini, entah apa. Aku mendekati layar itu, aku menyentuh nya, mengusapnya. Kemudian kulihat mama membuka mata, seakan ia pun merasakan sentuhan ku. Mama tiba-tiba bangun dan duduk sambil terus memeluk dan menciumi bajuku itu. Mama berkata pelan,”nanda anaku, maafkan mama sayang. Mama menyesaaaaallll…..mama sangat mencintaimu, merindukanmu.” Kembali ia mengucapkan itu dan tangis nya pun kembali pecah.

Aku terkesiap ingin kupeluk mama dan membalas ucapannya bahwa tidaklah ia salah selama ini. Bukan kesalahannya, Bahwa ia tidak menyadari kalau ternyata ia mencintaiku dengan sangat seperti ini. Aku ingin berlari mendatanginya, memeluknya, dan berkata-kata padanya. Kembali makhluk bersayap itu menggelengkan wajahnya. Aku hanya ingin melihat mamaku tersenyum kataku padanya. Ia malah tersenyum dan mengangguk dan mengingatkanku untuk kembali meneruskan perjalanan. Layar demi layar kami lalui, aku hanya melihat banyak orang menangis, tiba-tiba aku seperti dijalari sebuah perasaan yang meluap-luap. Beginikah rasanya diperhatikan ? beginikah rasanya dicintai dengan sangat ? beginikiah rasanya jika dibutuhkan ? aku bertanya pelan pada makhluk bersayap itu. Ia tidak menjawab, tapi kemudian ia menghentikan langkahku dan membuatku melihat pada layar dinding lorong ini. Kulihat mama sedang membuka lemari pakaian ku, ia mengeluarkan semua isi nya dan menata nya kembali satu persatu. Diciumi nya beberapa helai baju ku. Ia lakukan itu berulang ulang. Mama sejenak terdiam ketika menemukan sebuah foto usang ku, ketika pertama kali aku lahir kedunia ini. Diambilnya foto itu, diusapnya pelan, dicium nya foto itu dengan sepenuh hati. Ia tersenyum !! ya, ia tersenyum teriakku pada makhluk bersayap itu. Akhirnya kusaksikan mama tersenyum !! tak sabar kunantikan apa yang akan dilakukan mama selanjutnya. Mama memejamkan mata, ia seperti berdoa. Tiada satu katapun terucap dari bibirnya, tapi aneh kurasakan dlm hati, kudengar ia berkata, “pergilah nanda anakku dengan damai, mama ikhlas sayang, maafkan mama ya nanda sayang…..maafkan mama….maafkan mama….”. aku menghela nafas panjang,,,,ada beban yang kini sudah terangkat. Terimakasih TUHAN, KAU sudah mengabulkan doaku.


20 Februari 2009 10:53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar