Ada dua orang perempuan Selvi dan darry yg bersahabat layaknya saudara, semua mereka lakukan bersama. Dari mulai selera berbagai hal sampai dengan menyekolahkan anak2nya di sekolah yang sama, anak mereka pun selalu sekelas. Mereka tampak sangat akrab dan menyenangkan, tak heran semua orang menyukai nya.
Suatu hari persahabatan mereka diuji. Ketika tahun ajaran baru anak selvi dan anak darry terpisah kelas dan bertemu dengan teman2nya yg baru. Selvi dan darry pun jd jarang bertemu, walau kerap mereka komunikasi lewat telpon. Darry yang lebih sering berada di rumah dan terbiasa nyaman berada dilingkungan yg lbh kecil, merasakan perubahan pd diri selvi, dia merasa kian jauh dengan sahabatnya itu. Selvi lebih sering bersama dengan teman2 baru dan lingkungan baru. Walau selvi dan darry sering bertemu, darry merasakan perubahan drastis pd diri sahabatnya. Selera berpakaian Selvi tampak sedikit berubah, seleran makanan selvi pun demikian, bahkan dari cara berbicarapun banyak kata2 baru yg digunakan Selvi yg tdk dimengerti Darry. Darry merasa Selvi menjauhi nya dan mulai mencari cari alasan untuk tidak bertemu dengannya.
Sampai pada suatu kesimpulan, Darry mulai membuka permusuhan dengan sahabatnya sendiri itu, pesan singkat kadang terlambat ia respon, ajakan untuk mengantar anak ditolak oleh Darry dan sebagainya. Puncak nya adalah ketika Darry bertemu dengan teman2 dari luar lingkungan Selvi yg ia rasakan sangat membuatnya nyaman menggantikan posisi Selvi sebagai sahabatnya. Dengan cepat Darry pun melupakan Selvi. Tentu sj hal itu sgt dirasakan Selvi yg heran dengan tingkah laku sahabatnya itu. Pada suatu hari ketika Selvi sedang asik berkumpul dengan beberapa wanita, seseorang yg lain menegurnya,
"Hai Selvi, mana Darry ? Spt nya kalian udh lama ya gak kliatan berdua"
"Iya, krn anak kt gak sekelas dan waktu pulang nya jg sedikit berbeda jadi mungkin kt jarang ketemu"
"Ooh syukurlah kl tidak ada apa2"
"Maksudnya ?"
"Yang aku dengar kalian ada masalah....."
Bla bla bla bla bla
Kalimat demi kalimat yg meluncur dari wanita itu kemudian sangat menyesakan buat Selvi, ia tidak menyangka sahabatnya begitu membencinya tanpa ia tahu alasan yg sebenarnya. Walau ia tidak mau percaya kebenaran cerita itu tak ayal ia menanyakannya pd Darry.
"Darry, aku dengar sesuatu yg jelek yg sudah kamu katakan pada salah satu teman kt, apa itu benar ?"
"Siapa ? Temen gw kali bukan temen lo"
"Apa itu benar darry ?"
"Lo tuh belagu mentang2 punya temen2 baru dan lebih dari gw, lo gak mau lg temenan ama gw !! Emg gw gak sekaya temen2 lo ya jd mungkin lo gak mw temenan ama gw lg"
"Kata siapa Darry ? Km tetep sahabatku !! Kalo aku berteman dgn siapa saja selain dgn kamu ya wajar2 saja kan ? Aku seneng bertemu dengan lingkungan baru dan menambah wawasanku, lagian tdk semua jg orang2 baru banyak dr mereka ternyata tetanggaku dl di tempat ku yang lama, trs ada beberapa suami mereka jg kenal suamiku !! Bahkan mereka semuanya baiiik sekali !! Pertemanan kami tdk berdasarkan status sosial dan hal2 lain yg spt km maksud"
"Lo skrg jd pinter ngomong sejak bergaul sm mereka"
"Astagfirrulaahaladziim Darry....tidak baik menilai seseorang yg tidak km kenal dekat. Bertemanlah dengan mereka dgn niat positif dan tnp maksud lain2. Aku tidak pernah melarang km utk bergaul dengan siapa sj selain aku, bahkan aku senang kalau kamupun mendapat banyak teman2 baru"
"Gw gak suka sama temen2 lo, banyak omong dan sombong !! Sok kaya semua".
"Astagfirullahaladziim....sekali lg ya Darry, gak baiiiik kamu menjudge orang seakan km tau segalanya ttg org itu ! Padahal mereka tidak pernah mengatakan sesuatu yg buruk ttg km ! Gak darry, gak boleh. Aku sebagai sahabatmu sangat sedih mendengar km punya pikiran spt itu"
"yauda lo gak usah berteman ama gw lg selamanya, sana ama temen2 lo aja !!! Lo lebih nyaman kan ? Apalah arti nya gw buat kalian !!!"
Dengan sedih, Selvi menyudahi pembicaraan dengan Darry tanpa satu solusi yg bisa membuatnya memperbaiki pertemanannya dengan Darry. Ia hanya berpikir, apakah ia salah mempunyai teman2 menyenangkan selain Darry ? Apakah tidak boleh mempunyai sahabat2 lain selain Darry ? Begitu piciknyakah Darry tidak mau menerima kenyataan bahwa mereka boleh berteman dengan siapa saja diluar pertemanan mereka ? Atau Ia sendiri yg memang ingin menjauh dr Darry ?
Berbagai pertanyaan lain menggantung dikepalanya, tapi yg amat ia sedihkan adalah kehilangan sahabat yg disebabkan masalah yg tidak ada artinya itu. Makin ia pikirkan, makin membuat nya sedih. Ia putuskan bahwa persahabatannya dengan Darry meyakini nya satu hal, seberapa lama ia dekat dengan Darry ternyata ada hal2 lain diluar itu yg tidak ia ketahui ttg Darry. Hal2 yg membuatnya tdk percaya jk itu dilakukan seorang sahabat. Boleh2 saja ia menganggap sangat dekat bersahabat dan berteman layaknya saudara dengan Darry, tp disaat lain Darry bisa berubah menjadi seorang yg amat memusuhinya.
Benar spt yg Tsun Tzu bilang (seorang panglima perang dr china yg sudah memenangkan pertempuran terbanyak sepanjang sejarah china)
"Kenali sahabatmu, lebih kenali lagi musuhmu....maka 1000x perang, 1000x menang akan kau dapatkan" (Tsun Tzu)
Minggu, 05 Februari 2012
Jumat, 06 Januari 2012
Anakku cinta
Kemarin malam anak lelakiku bikin jantung mau copot dengan pernyataan nya. Gimana gak, malam itu malam jumat, udah siap-siap mau tidur, anaku yang perempuan malah udaj nyenyak sekali tidurnya, walau terhitung belum terlalu malam siy masih sekitar jam 20.40 an gitu. Kebiasaan sebelum mereka tidur adalah memeluk satu-satu, memcium kening, pipi, muka, sampai badan nya (abis mereka wangi sekali, kebayang kan uterus bergolak waktu menghirup aroma asli kulit anak). Setelah ritual itulah anak lelakiku, Ghanez tiba-tiba nyeletuk,
"Bunda, kakak pengen nangis..."
sambil terus sesenggukan setelah kalimat pertama meluncur dari mulutnya. Aku yang agak heran melihatnya langsung memjawab kenapa ia sampai menangis padahal gak ada apa-apa.
"Kakak gak mau meninggal buun..."
Meledaklah tangisnya menggantikan intro sesenggukan tadi, antara memdengar dan kurang jelas memdengarnya, aku si bunda nya langsung meminta dia untuk lebih jelas lagi bicara dan berhenti menangis.
"Iya buun, kakak gak mau meninggal, kalau kakak meninggal kakak pengen hidup lagi. Kakak takut bun, kakak gak mau kalau kakak gak bisa liat ayah, bunda sama icel"
Aku yang mendengar curhatan anak umur 6,5 tahun itu langsung jadi pengen ikut nangis, pernyataan nya yang tiba-tiba tanpa diduga itu langsung aku proses dan mencari kata-kata yang pas buat menenangkannya.
Aku lalu menjawab, kakak kenapa tiba-tiba ngomong begitu, apa yang membuat nya jadi punya perasaan seperti itu. Dia lalu menjawab lagi, "Gak ada apa-apa bun, kakak cuman sedih aja kalo kakak meninggal"
Akhirnya aku menerangkan panjang lebar kepadanya, bahwa kematian itu rahasia ALLAH SWT, tidak ada satupun manusia yang tahu kapan ia meninggal. Bisa saat ini juga, besok, bulan depan, tahun depan bahkan 50, 100 tahun lagi.
"Tapi kakak nanti kalo kakak udah jadi kakek, kakak sakit gak bun ?"
Pertanyaan-pertanyaan makin aneh terus terucap dari bibir mungilnya, seakan masih banyak hal yang perlu ditanyakan menunggu jawaban saat itu juga. Dengan sabar, aku mencoba menjawab nya sambil terus aku peluk badan yang masih terguncang kecil karena sesenggukan.
Malam itu kami tutup dengan tidur saling berpelukan di tempat tidur yang jadi sempit yang juga seharusnya jadi tidak nyaman. Tapi melihat wajah-wajah yang begitu polos, tulus, wangi dan meminta perlindungan, semua itu lebih dari cukup umtuk membuat space seluas dunia yang bisa kami tiduri.
Love u Ghanez, Grizel...
The World can be at war, but the momment my hand wraps around you tightly, everything is gonna be fine
"Bunda, kakak pengen nangis..."
sambil terus sesenggukan setelah kalimat pertama meluncur dari mulutnya. Aku yang agak heran melihatnya langsung memjawab kenapa ia sampai menangis padahal gak ada apa-apa.
"Kakak gak mau meninggal buun..."
Meledaklah tangisnya menggantikan intro sesenggukan tadi, antara memdengar dan kurang jelas memdengarnya, aku si bunda nya langsung meminta dia untuk lebih jelas lagi bicara dan berhenti menangis.
"Iya buun, kakak gak mau meninggal, kalau kakak meninggal kakak pengen hidup lagi. Kakak takut bun, kakak gak mau kalau kakak gak bisa liat ayah, bunda sama icel"
Aku yang mendengar curhatan anak umur 6,5 tahun itu langsung jadi pengen ikut nangis, pernyataan nya yang tiba-tiba tanpa diduga itu langsung aku proses dan mencari kata-kata yang pas buat menenangkannya.
Aku lalu menjawab, kakak kenapa tiba-tiba ngomong begitu, apa yang membuat nya jadi punya perasaan seperti itu. Dia lalu menjawab lagi, "Gak ada apa-apa bun, kakak cuman sedih aja kalo kakak meninggal"
Akhirnya aku menerangkan panjang lebar kepadanya, bahwa kematian itu rahasia ALLAH SWT, tidak ada satupun manusia yang tahu kapan ia meninggal. Bisa saat ini juga, besok, bulan depan, tahun depan bahkan 50, 100 tahun lagi.
"Tapi kakak nanti kalo kakak udah jadi kakek, kakak sakit gak bun ?"
Pertanyaan-pertanyaan makin aneh terus terucap dari bibir mungilnya, seakan masih banyak hal yang perlu ditanyakan menunggu jawaban saat itu juga. Dengan sabar, aku mencoba menjawab nya sambil terus aku peluk badan yang masih terguncang kecil karena sesenggukan.
Malam itu kami tutup dengan tidur saling berpelukan di tempat tidur yang jadi sempit yang juga seharusnya jadi tidak nyaman. Tapi melihat wajah-wajah yang begitu polos, tulus, wangi dan meminta perlindungan, semua itu lebih dari cukup umtuk membuat space seluas dunia yang bisa kami tiduri.
Love u Ghanez, Grizel...
The World can be at war, but the momment my hand wraps around you tightly, everything is gonna be fine
Langganan:
Postingan (Atom)