Kemarin malam anak lelakiku bikin jantung mau copot dengan pernyataan nya. Gimana gak, malam itu malam jumat, udah siap-siap mau tidur, anaku yang perempuan malah udaj nyenyak sekali tidurnya, walau terhitung belum terlalu malam siy masih sekitar jam 20.40 an gitu. Kebiasaan sebelum mereka tidur adalah memeluk satu-satu, memcium kening, pipi, muka, sampai badan nya (abis mereka wangi sekali, kebayang kan uterus bergolak waktu menghirup aroma asli kulit anak). Setelah ritual itulah anak lelakiku, Ghanez tiba-tiba nyeletuk,
"Bunda, kakak pengen nangis..."
sambil terus sesenggukan setelah kalimat pertama meluncur dari mulutnya. Aku yang agak heran melihatnya langsung memjawab kenapa ia sampai menangis padahal gak ada apa-apa.
"Kakak gak mau meninggal buun..."
Meledaklah tangisnya menggantikan intro sesenggukan tadi, antara memdengar dan kurang jelas memdengarnya, aku si bunda nya langsung meminta dia untuk lebih jelas lagi bicara dan berhenti menangis.
"Iya buun, kakak gak mau meninggal, kalau kakak meninggal kakak pengen hidup lagi. Kakak takut bun, kakak gak mau kalau kakak gak bisa liat ayah, bunda sama icel"
Aku yang mendengar curhatan anak umur 6,5 tahun itu langsung jadi pengen ikut nangis, pernyataan nya yang tiba-tiba tanpa diduga itu langsung aku proses dan mencari kata-kata yang pas buat menenangkannya.
Aku lalu menjawab, kakak kenapa tiba-tiba ngomong begitu, apa yang membuat nya jadi punya perasaan seperti itu. Dia lalu menjawab lagi, "Gak ada apa-apa bun, kakak cuman sedih aja kalo kakak meninggal"
Akhirnya aku menerangkan panjang lebar kepadanya, bahwa kematian itu rahasia ALLAH SWT, tidak ada satupun manusia yang tahu kapan ia meninggal. Bisa saat ini juga, besok, bulan depan, tahun depan bahkan 50, 100 tahun lagi.
"Tapi kakak nanti kalo kakak udah jadi kakek, kakak sakit gak bun ?"
Pertanyaan-pertanyaan makin aneh terus terucap dari bibir mungilnya, seakan masih banyak hal yang perlu ditanyakan menunggu jawaban saat itu juga. Dengan sabar, aku mencoba menjawab nya sambil terus aku peluk badan yang masih terguncang kecil karena sesenggukan.
Malam itu kami tutup dengan tidur saling berpelukan di tempat tidur yang jadi sempit yang juga seharusnya jadi tidak nyaman. Tapi melihat wajah-wajah yang begitu polos, tulus, wangi dan meminta perlindungan, semua itu lebih dari cukup umtuk membuat space seluas dunia yang bisa kami tiduri.
Love u Ghanez, Grizel...
The World can be at war, but the momment my hand wraps around you tightly, everything is gonna be fine
Tidak ada komentar:
Posting Komentar